5 Faktor Penentu Terjualnya Properti

Real-Estate-Transactions

Terjualnya suatu properti memang gampang-gampang susah. Ada yang bisa cepat dengan harga tinggi, namun banyak juga klien yang merasa propertinya sudah ditawarkan “murah” tetapi tetap tidak kunjung laku. Apa saja yang menentukan?

1. Harga
Tentu saja faktor paling pokok dalam setiap proses jual-beli dibidang apapun adalah harga. Apabila harga masuk pasaran atau bahkan dibawahnya maka logikanya properti akan segera terjual. Yang menjadi permasalahan adalah berapa harga yang pantas, yang murah, yang masuk pasaran? Calon penjual perlu up-date harga pasaran terbaru tepat disaat propertinya hendak ditawarkan, karena namanya harga pasaran selalu berubah-ubah. Pertanyaannya, apakah harga pasaran itu? Bisa dikatakan harga pasaran adalah harga yang dapat diterima oleh rata-rata masyarakat sebagai calon pembeli. Nilainya bisa didapatkan dari transaksi terakhir di daerah tersebut, ataupun dari rata-rata penawaran terhadap properti tersebut. Semua penjual pasti menginginkan harga tertinggi, semua pembeli juga pasti menginginkan harga terendah. Menyadari harga pasaran secara realistis bisa bermanfaat untuk menentukan harga kepantasan sebuah transaksi properti.

2. Lokasi dan posisi
“Harga saya sudah “murah”, tetapi mengapa belum laku juga?” Pertanyaan ini juga sering diucapkan oleh calon penjual. Properti adalah sesuatu yang unik, tidak ada yang sama persis, sehingga tidak bisa dikatakan harga pasaran menjadi sesuatu yang baku. Bagaimana lokasi dan posisi properti yang ditawarkan? Apakah di lokasi sunrise atau sunset? Apakah banyak yang mencari atau ingin tinggal di daerah tersebut? Bagaimana posisinya, apakah di depan sekolah atau di depannya hanya tanah kosong? Ataukah di jalan utama atau di jalan buntu? Ada banyak sekali faktor yang menentukan dari lokasi dan posisi ini. Apabila dirasa posisi kita menguntungkan maka kita bisa menawarkan lebih tinggi, namun apabila secara jujur kita akui bahwa posisi properti kita banyak kelemahannya maka kita perlu berlapang dada untuk menurunkan harga penawarannya. Pada prinsipnya, lokasi bagaimanapun akan selalu ada pembelinya asalkan harganya sesuai.

3. Kondisi dan Desain Bangunan
Lokasi sudah bagus, harga sudah ”murah” tapi belum laku juga, apalagi?
Kondisi bangunan dan desain. Tidak bisa dipungkiri bahwa bangunan yang baik, bersih, terawat akan lebih menarik mata calon pembeli sehingga bisa mendapatkan penawaran yang baik. Kita bisa melakukan perbaikan minor, seperti mengecat ulang, merapikan taman, memperbaiki bocor, dan lain-lain sebelum menawarkan properti kita agar lebih menarik. Namun cukup pada perbaikan minor saja yang membutuhkan biaya tidak terlalu besar. Perlu diperhatikan betul-betul apabila kita hendak melakukan perbaikan besar seperti mengganti lantai, mengganti kusen, mengganti isi kamar mandi. Jangan sampai biaya perbaikan menjadi terlalu besar sehingga harga jual malah melambung diatas pasaran. Perbaikan besar bisa dilakukan apabila diyakini biayanya sebanding dengan kenaikan harga penawaran. Bagaimana dengan desain? “Rumahku Istanaku” inilah yang terjadi pada setiap orang. Setiap individu pasti mencintai atau setidaknya terbiasa dengan tempat miliknya. Dan ini hal yang unik, berbeda bagi setiap individu. Ada yang suka rumah design A maka menilai tinggi, namun justru ada yang suka design B sehingga design A tidak terlalu bernilai baginya. Pemilik properti pasti cenderung menilai tinggi apa yang dijualnya, tidak salah memang karena mereka pasti sudah sangat nyaman dengan kondisinya. Tetapi ketika menawarkan properti ke masyarakat maka pada saat itu juga harus disadari bahwa selera masyarakat tidak sama dengan kita. Apa yang bagi kita bernilai belum tentu dinilai sama bagi orang lain. Menjual adalah menawarkan kepada orang lain, maka perlu disesuaikan dengan selera atau kebutuhan orang lain juga.

4. Cara Bayar
Tidak semua calon pembeli memiliki dana yang siap segera untuk ditransfer. Bahkan sebagian besar pembeli properti saat ini membeli melalui pinjaman bank. Semakin fleksibel cara pembayaran yang bisa dilakukan, maka semakin banyak juga potensi calon pembeli yang bisa didapatkan. Setidaknya jangka waktu sampai 6 bulan masih dalam batas wajar untuk menunggu lunasnya suatu transaksi. Beberapa pembeli mengurungkan niatnya untuk bertransaksi karena penjual tergesa-gesa ingin segera menerima pelunasan, padahal setelah ditunggu sekian lama pembeli lain juga tak kunjung ada.

5. Promosi
Promosi adalah faktor yang sangat penting juga. Berapa banyak orang yang tahu bahwa properti kita sedang ditawarkan? Semakin banyak yang tahu maka seharusnya semakin banyak juga penawaran yang masuk, yang berujung semakin tinggi pula harga yang bisa didapatkan. Terkadang orang justru membatasi diri dalam “memberitakan” bahwa propertinya sedang dijual, satu dan lain hal memang ada alasannya yang tidak dibahas dalam artikel ini. Namun dalam poin ini ditekankan bahwa semakin banyak orang yang tahu bahwa properti kita sedang dijual maka semakin cepat dan semakin tinggi pula transaksinya bisa terjadi.

Author Arief Haryono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *